Senin, 26 Oktober 2009

Dicari Bankir Syariah Yang Komunikatif

. Senin, 26 Oktober 2009 .

Saat industri masih dalam fase perkembangan, banyak nasabah bertanya-tanya soal benefit atau keunggulan layanan syariah. Karena itu kemampuan berkomunikasi dan pemahaman akan produk keuangan syariah menjadi kata kunci untuk suksesnya industri ini ke depan. Dan industri ini masih butuh 14-40 ribu SDM yang menguasai kedua skill tersebut.



Industri keuangan syariah membutuhkan hingga 40 ribu tenaga sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Jumlah sebanyak itu dibutuhkan untuk menopang target pertumbuhan asset bank syariah 5 persen tahun ini. Dengan asset sebesar itu berarti akan banyak cabang baru dibutuhkan.



Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, Ramzi A Zuhdi menyatakan minimnya SDM berkualitas merupakan salah satu kendala mengapa industri ini tidak tumbuh sebagaimana diharapkan. Sempat mencatatkan pertumbuhan hingga 80 persen pada tahun 2003, industri ini seolah mengalami perlambatan.



Padahal yang diharapkan justeru sebaliknya. Bank Indonesia mematok target akselerasi hingga asset bank syariah mencapai 5,18 persen dari asset bank nasional.



Kata Zuhdi, kondisi di lapangan memperlihatkan bahwa SDM yang berada di perbankan syariah, bukanlah lapis teratas dari kualitas SDM yang dibutuhkan. "Mereka yang memiliki skill tinggi, tentu juga berharap gaji dan pendapatan tinggi. Dan itu mereka dapatkan di bank konvensional papan atas." Terlepas memang banyak juga bankir yang memilih bank syariah lantaran alasan ideologis. Industri keuangan syariah akhirnya mendapatkan SDM dengan kualitas satu lapis di bawah teratas.



Dan itu berpengaruh pada kinerja dan target akselerasi. Menurut Zuhdi, merujuk data riset dari beberapa lembaga penelitian, hampir 60 persen SDM yang berada di bank syariah adalah dari bank konvensional. Mereka hanya dibekali training sedikit dan lantas bertugas sebagai bankir syariah. pola pikirnya kadang masih konvensional," kata dia dalam perbincangan dengan Sharing beberapa waktu lalu.



Kondisi itu menurut dia jelas tak cukup. Industri ini masih tumbuh dan yang utama adalah membangun image. Keterampilan teknis saja menurut dia tak memadai. "Yang dibutuhkan adalah bankir-bankir yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik," katanya kepada reporter majalah Sharing usai peresmian lembaga pendidikan keuangan syariah internasional di kampus LPPI, akhir Juni 2008. "Saya pernah perhatikan saat menjual atau bertemu klien, bankir syariah seringkali tidak bisa menjelaskan, apa sih itu produk bank syariah? Apa bedanya dengan produk konvensional. Di mana letak kelebihannya? Itu kadang-kadang mereka sendiri masih bingung. Nah, padahal kalau ini bisa dijelaskan dengan baik calon klien tertarik," papar Zuhdi.



Para bankir syariah, dengan alasan memudahkan nasabah, kerap menjual dengan cara konvensional. Padahal bukan itu yang dicari nasabah. Orang mencari benefit. Jika yang didapatkan sama, buat apa mereka harus bertransaksi di bank syariah. Jadi, menurut Zuhdi, kemampuan komunikasi amat penting.



Saat ini yang terjadi justeru sebaliknya. Alih-alih bisa meng-grab-nasabah baru yang ingin mengetahui tentang bank syariah, nasabah malah mungkin kabur karena bankir bahkan tak bisa menjelaskan benefit dari setiap produk bank syariah yang dijualnya.



Selain kemampuan komunikasi, penghayatan nilai Islam yang merupakan rahmatan  Iil alamin juga amat penting. 'Memang sepertinya mudah, tapi ini sulit diwujudkan,” kata Zuhdi lagi. Bankir syariah harus menghayati nilai-nilai Islam disamping mampu memberikan servis excellence.



Apalagi industri syariah Indonesia sedang dalam sorotan dunia internasional. Diperhatikan karena mereka berharap bisa masuk pasar Indonesia. Siapa tak tergiur negara dengan sumber daya alam tinggi dan populasi 250 juta jiwa. Jika industri ini bisa mengundang masuknya pemain asing, maka harus dibuktikan dulu bahwa SDM nya bisa melayani klien dalam negeri secara baik. Maka pasar internasional pun tidak ragu datang.



Kebutuhan Puluhan Ribu SDM



Berapa persisnya kebutuhan SDM syariah untuk memenuhi pangsa pasar 5     persen itu? Ramzi mengatakan ada yang mengkalkulasi hingga 40 ribu. Namun, kata dia, tak diperinci untuk level apa saja jumlah SDM sebesar itu. Itupun dilansir pada awal 2007, saat gaung target akselerasi asset digemakan.



Perhitungan berbeda diajukan pakar ekonomi Syariah M Syafii Antonio. Secara matematis dia merumuskan jika industri ini tumbuh 30 persen tahun ini, berarti butuh sekitar 14 ribu SDM baru. "Padahal ada bank yang mematok target membuka 1.000 cabang unit mikronya tahun ini. Jika satu unit butuh 3-5 orang saja, berarti ada kebutuhan 3.000-5.000 SDM lagi," paparnya.



Kebutuhan itu akan makin tinggi dengan telah disetujuinya UU Perbankan Syariah pada 17 Juni lalu, dan UU Surat Berharga Syariah Negara yang saat ini sedang dikaji draft fatwa turunannya. Ditopang kedua UU tersebut, dipastikan industri ini akan makin menguat yang berarti butuh sumber daya yang lebih banyak.





Jumlah serupa disodorkan Arie Mooduto, Direktur Direktorat Bidang Syariah LPPI (sekarang baru saja berganti nama menjadi International Center for Development in Islamic Finance atau ICDIF -red). LPPI, kata dia, pernah melakukan kajian sendiri. Benar, dibutuhkan 14 ribu SDM syariah jika bank syariah mau menaikkan pangsa pasar dari 1,8 menjadi 5 persen tahun ini. Itu jumlah yang banyak tentu saja.



Jika satu tahun, mampu dicetak seribu saja SDM yang memahami syariah maka masih butuh 14 tahun untuk memenuhinya. "Mencetak seribu SDM dalam setahun berdasar pengalaman dan pengamatan kami tampaknya hal mustahil," urai Arie. Program instant juga tidak baik karena berpengaruh pada kualitas.



Arie beralasan jika kualitas SDM itu tidak di atas minimum requirement, pada akhirnya nanti akan membawa implikasi yang negatif buat industri keuangan syariah. Kedua, kalau jumlahnya (kuantitas) juga kurang, maka tentu juga tidak bisa mengakomodasi permintaan dari masyarakat yang terus meningkat. Padahal, industri perbankan syariah dalam Skala global sekarang ini berada pada tingkat perkembangan yang menakjubkan (remarkable development). Dan tren ini pun di dalam industri nasional juga sama.



Maka Arie berkesimpulan perlu ada extraordinary effort, upaya ekstra untuk bisa menyiapkan SDM berkualitas baik.



Arie sepakat dengan Ramzi bahwa pasar internasional menunggu saat memasuki Indonesia. lbaratnya mereka adalah bank syariah dengan reputasi internasional.



Tentu standar pelayanannya pun internasional. Jika di dalam negeri, industri syariah harus mencari ceruk pasar dan bisa menjual benefit di rimba bank konvensional, maka di masa mendatang persaingan tidak saja di level nasional tapi juga antar dunia internasional. Belum lagi jika yang masuk adalah bank syariah dari lembaga keuangan dan perbankan multi nasional seperti Citibank, HSBC, Standard Chartered, ABN Amro, BNP Paribas dan lainnya yang di Timur Tengah dan Malaysia mereka sudah punya Islamic unit.



Meracik Kurikulum



Minimnya SDM di bank syariah sebetulnya bukan cuma pekerjaan rumah bagi Bank Indonesia atau bank syariah selaku end user dari produk pengelolaan SDM di perguruan tinggi, tapi juga bagi pengelola kampus, pabrik SDM yang menyuplai kebutuhan tenaga kerja di industri keuangan syariah. Mereka dituntut mampu menciptakan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri.



India D Hasman, salah satu direktur di Karim Business Consulting menegaskan penyiapan SDM syariah tak bisa dihasilkan dengan program instan alias karbitan sebagaimana selama ini terjadi. Menurut dia sudah seharusnya ada pola terstruktur dan rapi. Kurikulum juga harus dirancang dengan balk. Malah menurut dia karena kebutuhan yang massif maka harus ada upaya bersama stakeholder membahas masalah ini.



Dia mengakui ada perguruan tinggi yang membuka program keuangan syariah secara khusus seperti STIE Tazkia dan SEBI. Namun
angkanya masih terbilang kecil. Padahal angka kasar yang dibutuhkan adalah 40 ribu.



          Kampus pun mencoba menyiapkan meracik kurikulumnya. Di Tazkia, mahasiswa belajar dalam model boarding atau asrama.
"Ini adalah strategi yang kami coba kembangkan. Pada tahun pertama, saat mondok kami berikan bahasa Arab, Matematika, Ekonomi, bahasa Inggris untuk ekonomi. Di tahun kedua, kami memberikan dasar-dasar akuntansi, manajemen, dan ekonomi,”kata Syafii.



Namun bukan itu saja tujuan perguruan tinggi yang membuka jurusan ekonomi syariah. Kampus-kampus ini bertekad menciptakan tenaga entrepreneur dan bukan seka-dar orang yang mengejar lowongan kerja apalagi pegawai negeri.



Sementara SEBI membuka link and match terkait kompetensi SDM. "Kami berharap, SDM yang masuk ke SEBI harus terwarnai dengan nilai-nilai Islam dan tentunya moral. Makanya salah satu motto kami di sini adalah "Pendidikan ekonomi Islam dengan ahklakul karimah." Makanya, mahasiswa kami diberistudi ke-Islaman selama empat semester.



DI masa itu, mereka harus punya dan mengamalkan nilai-nilai Islam yang sebenarnya sudah menjadi kewajiban seorang Muslim. "



Namun Sigit tak membantah bahwa mereka masih tetap membekali mahasiswa dengan keuangan konvensional. "Untuk memahami ekonomi syariah mereka belajar ekonomi konvensional dulu. Bagaimanapun ekonomi konvensional sudah terbangun selama seratus tahun. Lagi pula akarnya masih ada juga yang bermuatan Islam." SEBI mengklaim 90% terserap di dunia kerja, secara umum di perbankan, lembaga keuangan, lembaga amil zakat (LAZ), dan dunia bisnis. Semuanya adalah di industri syariah. Dan yang penting mereka bermanfaat untuk masyarakat.


(Sharing, Edisi 19 Thn II-Juli 2008)

(Read More..)

Rabu, 14 Oktober 2009

Soal mendasar sejarah dan sistem ekonomi islam

. Rabu, 14 Oktober 2009 .

Ada beberapa pertanyaan mendasar yang wajib kita ketahui mengenai ekonomi islam, yaitu
1. Sebagai ilmu pengetahuan, apa sih ontologi, epistomologi dan aksiologi ekonomi islam
2. Apakah ekonomi islam merupakan sistem baru?
3. Apa komentar Jean C. Boulavakia tentang Ibnu Khaldun
4. Apa pengertian ekonomi islam menurut Abdul Manan, Umer Chapra, hasanuzzaman
5. Secara umum, ekonomi dibagi 2 sektor, jelaskan!


nah jawabannya dan beberapa pertanyaan tambahan di bahas ntaran dulu yah, coz mo jemput temen bentar, mo ngerjain tugas akutansi ok.
jadi jangan kemana-mana

(Read More..)
 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com